Dulu saya mengira islamphobia adalah sudut pandang negatif beberapa orang non-muslim yang timbul akibat ketidaktahuan mereka terhadap Islam secara penuh. Namun akhir-akhir ini saya menyadari, islamphobia justru banyak menjangkit diri kita yang mengaku muslim, mengaku beriman, menjangkit kita yang selalu mendirikan shalat lima kali sehari semalam. Hal ini seringkali tidak kita sadari. Ada ketakutan saat kita menampakkan keislaman kita secara zhahir, lingkungan akan melihat kita dengan pandangan risih, merasa akan dijauhi. Padahal parahnya, kita sadar bahwa lingkungan kita notaben dari kalangan muslim itu sendiri. Islam dipandang aneh di negeri non-muslim bukanlah sesuatu hal yang aneh. Wajar, karena mereka berinteraksi dengan sesuatu yang baru, pertama kali melihat para wanita menutupi bagian kepalanya dengan sehelai kain misalnya. Tapi yang aneh justru saat Islam dipandang aneh dan asing di negeri yang mayoritasnya memeluk agama Islam. Bisa jadi, inilah tingkatan islamphobia tertinggi, saat muslim itu sendiri ketakutan dengan keislamannya.
Tiga hari lalu, video terbaru Ferry Irwandi berjudul "Hidup Tanpa Social Media dan Bahagia" muncul di beranda Youtube saya. Menontonnya sekilas, membuat saya candu untuk mengetahui lebih jauh perjalanan Ferry Irwandi, seorang content creator yang mempuasakan diri dua minggu lamanya dari hiruk pikuk dunia maya. Hasilnya? Sesuai judul videonya, ia lebih bahagia.
Enam bulan terakhir, banyak hal yang membuat saya menyadari ada yang tidak beres dengan diri saya. Kecanduan gawai salah satunya. Memang tidak setiap hari. Saya juga pernah merasa bosan berselancar di dunia maya. Namun, melihat rutinitas kegiatan saya enam bulan terakhir yang hampir tak pernah lepas dari gawai, laptop, internet, membuat saya semakin yakin, Bisa jadi beberapa beban psikis yang saya alami bersumber dari pola hidup yang tidak sehat ini. Teknologi memang memperpendek jarak kita dengan orang-orang yang jauh disana. Namun teknologi juga lah yang membuat orang-orang terdekat kita, seolah tidak ada.
Hal ini membuat saya ingin menantang diri saya pribadi, apakah dalam empat puluh hari bisa puasa dari kecanduan media sosial. Karena aktivitas kerja yang dilakukan dari rumah, saya tetap tidak bisa meninggalkan dunia maya sepenuhnya. Saya tetap harus menjaga komunikasi dengan rekan kerja. Untuk itu, saya putuskan untuk mengatur ritme memegang gawai dalam sehari.
Apakah tantangan ini berhasil? Kita mulia aja dulu.
Salah satu tanda keimanan adalah ambisi
Maka perhatikanlah saat Islam hanya sebatas kota kecil di padang pasir
Ancaman kepungan musuh tidak membuat Rasulullah ragu akan janji-Nya
Dengan yakin ia kabarkan bahwa Islam akan menaklukan Syam, Yaman hingga Persia.
Walau pada saat itu, untuk makanpun para sahabat bergantung pada setangkup kurma yang dimakan bersama.
Al Fatih salah satunya, Allah bebaskan Konstantinopel yang tak terkalahkan berabad-abad lamanya
Ia layarkan kapal-kapal ke daratan yang membuat banyak orang takjub tak percaya
Maka sungguh sangat malu saat diri ini masih berat untuk bangun shubuh tepat waktu
Apatah lagi ‘tuk menjadi pewujud janji yang Rasulullah sabda ratusan tahun silam.
Bak punduk merindukan bulan, bergemul dalam selimut membuat janji-janji mulia itu hanya sebatas angan.
Maka ambisi adalah salah satu tanda keimanan
Darinyalah tumbuh benih-benih yang akan membumikan Islam dalam kejayaan
Tinggallah sebuah pertanyaan, apakah benih itu adalah diri ini atau justru orang lain yang memilih bangun dan memulai meniti langkah demi langkah perjuangan
Memang tak selamanya jalan mulus indah terbentang
Akan ada masanya dimana keringat telah mengering, langkah kaki kian tertatih melangkah dan tangan gemetar mengenggam harap.
Pada saat itu seluruh usaha terasa telah dicurahkan namun angan masih tetap sebatas harapan.
Maka yang dapat kita lakukan, dan semestinya selalu kita lakukan, adalah menengadahkan dagu yang tadi tertekuk lesu, men-sujudkan wajah yang tadi mendongak langit menatap sayu.
Tengadahkanlah kedua tangan dalam pinta.
Benamkan wajah di atas sejadah di penghujung malam yang masih gulita
Mulailah berdoa, merayu Sang Pencipta
Kemudian, tunggulah bagaimana semesta bekerja atas seizin-Nya.
Membangkitkan Kembali Top Peak Performance
Bismillahirrahmanirrahim
Baru saja, kamu sudah melakukan tahap awal dari upaya membangkitkan kembali top peak performance-mu, sebuah keadaan dimana kamu merasakan tengah berada di puncak tertinggi kehidupanmu. Saat itu adalah momen paling membahagiakan yang pernah kamu alami. Kamu menikmati setiap aktivitas yang kamu lakukan. Barangkali saat itu adalah saat dimana kamu mendapatkan pencapaian yang kamu idam-idamkan.
Mungkinkah top peak performance itu kembali kembali terulang? Ya, nyatanya sangat mungkin. Sebenarnya, top peak performance tidak terjadi tiba-tiba. Adanya top peak performance didukung oleh beberapa faktor yang secara sadar atau tidak sadar hadir pada dirimu kala itu. Untuk menghadirkan kembali top peak performance tersebut, tentu yang mesti dilakukan adalah menghadirkan kembali faktor-faktor pendukungnya.
1. Pause
2. Expanding
Kamu akan diajak untuk melakukan refleksi ke dalam dirimu. Kamu akan diminta memutar ulang kejadian yang kamu anggap peforma terbaik dalam kehidupanmu. Kemudian kamu diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut.
Apa yang kamu rasakan saat mengalami top peak performace? Bahagia? Haru? Bagaimana kejadiannya?
Apa manfaat yang bisa kamu rasakan dan bagikan jika kembali di top peak performance?
Saat berada di top peak performace, coba ingat kembali 3 kunci suksesmu kala itu!
Lalu, apa yang perlu kamu hadirkan kembali agar berada di top peak performance itu sekali lagi?
3. Focus - Insight
Pada proses ini, kamu diminta untuk memahmi pelajar penting apa yang bisa kamu dapatkan dari dua proses sebelumnya. Catatlah pelajar-pelajaran tersebut. Lalu pahami polanya.
4. Real Action
Terakhir, dari berbagai pelajaran dan pola yang telah kamu temukan dari proses-proses sebelumnya, kamu mesti merealisasikannya dalam bentuk aksi nyata agar hal tersebut tidak sekadar angan belaka. Bayangkan bagaimana dampak yang bisa kamu hasilkan jika pelajar-pelajaran (insights) yang telah kamu temukan sebelumnya, kamu eksekusi dalam aksi nyata.
Dalam merencanakan aksi, hal yang mesti kita pahami adalah setiap langkah besar dalam kehidupan selalu dimulai dari satu langkah kecil dan terdiri dari langkah kecil-langkah kecil lainnya. Karena itu, mulailah merumuskan aksi untuk satu hari ke depan, satu minggu ke depan, satu bulan, hingga perencanaan jangka panjang satu atau 5 tahun mendatang
*****
Walau kelas daring ini hanya berlangsung sekitar 120 menit, Coach Adam benar-benar menggali kenangan top peak performance setiap peserta. Ada sekitar 300 peserta yang hadir kala itu dan in sya Allah ada lebih dari ratusan bahkan ribuan doa yang dipanjatkan atas ilmu yang telah menginspirasi banyak orang. Aamiin.
Afran Damari, Orang Tua bagi Para Pelajar yang Terpinggirkan Keadaan
Bagi orang-orang yang mendalami dunia pendidikan, serta para orang tua dan guru, jika puluhan bahkan ratusan cabang ilmu tersebut akan diformulasikan menjadi sebuah kurikulum pendidikan, menginginkan agar anak-anak dapat mengenyam model pendidikan terbaik, cabang ilmu mana yang menjadi prioritas terlebih dahulu dipelajari?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, bayangkan seseorang yang tengah kehausan. Tentu hal aneh bila ia mengambil air langsung dari teko, menampungnya di telapak tangan, walau itu mungkin dilakukan. Hal pertama yang ia cari adalah sebuah gelas karena gelaslah yang akan menampung air yang ingin diminumnya.
Air tadi dapat kita alogikan sebagai ilmu atau pendidikan yang menjadi kebutuhan primer manusia. Maka sebelum memamen ilmu-ilmu tersebut satu per satu, manusia membutuhkan wadah untuk menampungnya.
Wadah yang baik akan mencermin bentuk air yang baik. Wadah gelas akan membuat air tersebut seperti gelas, berbentuk kapal akan membuat air menyerupai kapal, bahkan jika wadahnya didesain berbentuk seperti kotoran, sesuai dengan sifat air yang mengikuti bentuk wadahnya, air tersebut akan terlihat berbentuk kotoran.
Baik air yang ada dalam gelas, wadah berbentuk kapal, atau bahkan wadah berdesain kotoran, mau seperti apapun bentuknya, air tetaplah air, bersifat netral, baru berubah manis jika ditambah gulu atau menjadi asin jika tercampur garam.
Begitu juga dengan ilmu. Ilmu hitung bisa dijadikan alat oleh mereka yang gemar berjudi untuk mencari keuntungan. Di sisi lain, mempelajari bagaimana membobol sebuah jaringan komunikasi justru dapat menjadi pengetahuan berharga bagi sebuah perusahaan untuk meningkatkan keamanan jaringan mereka. Ilmu-ilmu tersebut tidak pernah baik atau jahat, sifat mereka ditentukan oleh siapa yang memanfaatkannya. Maka penting di dunia pendidikan untuk mempelajari “wadah” sebelum mempelajari lautan ilmu yang luas.
Maka pertanyaan selanjut, “wadah” apa yang mesti dipersiapkan? Mari kita perhatikan amanat pendidikan.
Banyak pakar, tokoh, bahkan juga tercantum dalam undang-undang, pendidikan bertujuan agar manusia menjadi insan yang beriman dan berakhlak mulia. Dua pokok ini menjadi tujuan utama. Terlepas seorang anak yang punya cita-cita ingin menjadi seperti Elon Musk dengan ide gilanya membawa koloni manusia ke Mars, atau Ibnu Hayyan dengan karya-karya fenomenalnya di bidang Kimia, atau praktisi pendidikan seperti Salman Khan, pengetahuan agamalah yang mesti dipelajari setiap anak di usia dininya. Keimanan berhubungan dengan keyakinan. Maka hanya agama yang dapat menjadi sarana seserorang menjadi beriman dan secara absolut menentukan akhlak mana yang benar dilakukan dan mana yang salah.
Lalu mengapa kurikulum pendidikan saat ini seolah-seolah mengesampingkan pendidikan agama, bahkan di sekolah-sekolah hanya dipelajari satu kali dalam semingu. Ini merupakan sejarah panjang yang barangkali akan kita diskusikan di lain kesempatan.
